2 Mei 2007. Tanggal segini normalnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tapi buat para penggemar film dan superhero, hari ini adalah hari pertama Spider-Man 3 diputar di bioskop seluruh Indonesia. Hmm, jumlah orang yang mengantri buat nonton film ini hampir bisa dijamin lebih banyak daripada orang-orang yang upacara, atau mungkin berdemo memperingati Hardiknas. Bisa ngomong begini karena saya adalah salah satunya. Huhuu…Pak Ki Hajar Dewantara, maafkan saya. Upacara atau tanpa upacara, demo atau tanpa demo, nama dan jasa Anda akan selalu saya kenang dalam hati. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Sekarang kembali ke…laptop. Bukan. Kembali ke Spider-Man 3. Resensi? Bukan…siapa yang butuh resensi? Ada yang peduli? Wah, saya tidak. Semua film superhero kan tentang kebaikan lawan kejahatan (pengecualian deh buat Batman Begins, yang ini bukan sekedar superhero lawan villain…), pokoknya ada Spider-Man, ada musuhnya, bak-buk-bak-buk-tahan napas-bak-buk- selesai.
Berhubung gw sendiri bukan pengamat film, jadi tulisan selanjutnya ga akan banyak membahas film ini secara filmalitas. Bisa gak sih pake kata itu? Mengganti kata musik di kata musikalitas sama kata film, diperbolehkankah? Tidak? Oke, Bahasa Indonesiaku memang tidak pernah baik dan benar.
Cuma sedikit pengalaman gw nonton film ini yang mau gw coba bagikan…
-
Di Ciwalk XXI Bandung, tempat gw nonton, film ini diputar di 4 studio sekaligus, dengan pilihan waktu menonton sebanyak 20 macam, antara jam 11 siang sampai jam 11 malam. Dengan durasi film sekitar 2 setengah jam, coba lakukan matematikanya. Artinya kapanpun Anda datang ke sana, hanya perlu menunggu paling lama sekitar satu jam buat mendengar pengumuman : “Ting-tong-ting-tong, pintu teater … telah dibuka…” ditujukan kepada calon penonton Spider-Man 3. Waw. Bis jurusan Bogor-Bandung aja ga berangkat sesering ini…
-
Satu bapak tua bule, yang menurut gw pribadi mirip banget sama Stan Lee, nonton film ini juga. Dia duduk di salah satu kursi yang harusnya punya rombongan gw. Jadi temen gw minta dia liatin tiketnya dan nunjukin tempat duduk dia yang seharusnya, yaitu satu baris di depan rombongan gw. Si bapak tua bule itu entah kenapa malah lari ke belakang, cari tempat duduk yang menurut dia lebih asik mungkin. Selang beberapa menit film mulai, si bapak tua bule balik lagi bareng mba-mba bioskop yang nunjukin kursi dia yang sebenernya. (Agak ngeyel si bapak tua bule ini…)
. Si mba yang saya yakin dengan senyum manis (ga keliatan karena udah gelap) bilang, “Bapak kursinya di sini..” malah dibalas dengan “AWWW…..SHUT UP!!!” ama si bapak tua bule itu.
Pak…pak…jangan mentang-mentang mirip Stan Lee trus bisa seenaknya gitu dong… - Oh ngomong-ngomong Stan Lee yang asli juga jadi cameo di film ini.
-
Ada yang sadar ngga? Font yang dipakai sama logo PlayStation 3 itu sama kayak font yang dipakai logo film Spider-Man.

Entah apa artinya, tapi dua ladang duit itu emang sama-sama berada di bawah kekuasaan si Sony. -
Oh iya lupa, mungkin ga terlalu penting, tapi cara nulis Spider-Man yang bener itu emang “Spider-Man” bukan Spiderman. Beda sama Superman. Dipisahkan dengan sebuah garis apa itu namanya? garis pisah? atau garis sambung?
Jadi? Seberapa bagus film ini? Huhhh…gw mungkin bukan reviewer yang baik, tapi jujur aja, film ini sebenarnya ga sebagus yang gw bayangkan.
Dari durasi hampir 3 jam, ketegangan cuma ada di setengah jam awal dan setengah jam akhir. Kalau ini film pertamanya, mungkin ga akan ada Spider-Man 2 dan Spider-Man 3. *sok tau*
Tapi hoi…ini Spider-Man, inget? Ini adalah film ikonik yang cuma butuh tambahan angka sebagai pembeda dari film sebelumnya. Film ini ga butuh embel-embel sub-judul buat menekankan isi cerita dan penarik perhatian kayak “Jurassic Park : The Lost World”, atau “X-Men : The Last Stand”, atau yang bakal menyusul sebentar lagi, “Fantastic Four : Rise of Silver Surfer”. Cukup tambahan angka 2, 3, dan 4 (mungkin ga ya…?). Artinya, apapun isi ceritanya, selama kita masih bisa lihat ikon film ini – si Peter Parker yang pake kostum ketat merah-biru – bergelantungan di antara gedung pencakar langit, orang-orang bakal tetep berbondong-bondong mengantri film ini.
Agak beda dengan Harry Potter. Serial ini malah pake sub-judul buat pembeda tiap serinya. Tapi percaya deh, selama masih ada nama Harry Potter di situ, apapun sub-judulnya, orang-orang akan tetep mengantri buat beli bukunya. Sekalipun J.K Rowling mengubah judul buku terakhirnya jadi “Harry Potter and The Poisonus Avocado Juice”. *sok tau lagi*
Halah…paragraf ini ngaco abis…
Sekian dulu review singkat yang hampir tidak berguna dan penuh pendapat subjektif ini. Mohon maaf, tetap semangat dan maju terus perfilman Indonesia!!
@q_p <damar!


Lho… unsur perfilm-an Indonesia emang terinspirasi ama spiderman ya?
Ntar kalo ada film Indonesia yang identik sama itu dikira plagitarian lagi