Identity, Supremacy, Ultimatum.
…
Oke, sekali lagi. Identity, Supremacy, Ultimatum.
Identity, Supremacy, Ultimatum. Ultimatum.
…
Ultimatum. Oke, cukup. Ada yang tau kenapa film ketiga Jason Bourne ini, setelah Bourne Identity dan Bourne Supremacy, dikasih judul Bourne Ultimatum? Kenapa ga pake kata yang lebih berirama dengan identity dan supremacy, macam eternity? Atau mungkin reformasi? Atau proklamasi? Atau superposisi? Interferensi? Frekuensi radiasi? Ada yang pernah berpikir begitu? Kalau ada, saya sarankan jangan sekali-sekali dilakukan saat Anda sudah duduk di dalam bioskop. Sayang, menghabiskan waktu. Dan percaya, Anda tidak akan mau melewatkan adegan demi adegan film ini cuma demi pikiran bodoh macam itu.
Ultimatum. Oke!! Sudah cukup. Langsung saja, Bourne Ultimatum merupakan film ketiga petualangan Jason Bourne, diangkat dari novel berjudul sama karangan Robert Ludlum (hei! Mungkin ini jawabannya. Ultimatum, Ludlum. Ludlum, Ultimatum. Cukup.), dituang ke dalam layar lebar oleh sutradara Paul Greengrass, didukung oleh Matt Damon, Julia Stiles, Brian Cox, dan kawan-kawan. Masih bercerita soal petualangan Jason Bourne mencari jawaban atas masa lalunya, film ini dipenuhi adegan kejar-kejaran dan gebuk-gebukan yang jelas bakal membuat kita terpesona.
Best scene, sekaligus best fight adalah saat Jason Bourne harus bertarung melawan si pembunuh bayaran Desh Bouksani. Lupakan sebentar Spider-Man dan jaring laba-labanya, Harry Potter dengan tongkat bulu phoenixnya, ini adalah pertarungan satu lawan satu dengan tangan kosong. Kalaupun ada senjata itu juga seadanya. Tonton adegan ini dan lihat apa kamu bakal mengeluarkan suara-suara macam ‘uh’, ‘beuh’, ‘eeugh..’, ‘emh’, ‘ddaaah’ seperti saya. Oke, memang agak memalukan, tapi harus diakui, puas. Sisanya film ini dipenuhi adegan-adegan luar biasa, menahan napas sejenak, yang membuat kita bertanya-tanya berapa nyawa sebenarnya yang Jason Bourne punya.
Sip, jadi sebaiknya tonton sendiri untuk membuktikan perkataan saya, tapi jangan salahkan kalau Anda tidak sepuas saya karena selera orang bisa berbeda. Walaupun itu mungkin artinya adrenalin Anda tidak bekerja.
Oke, walaupun review kali ini cukup singkat, jangan lupa untuk tetap semangat, dan maju terus film Indonesia!
Identity, supremacy, ultimatum. Identity, supremacy, ultimatum. Ultimatum. Oaaghhhh!!!!
@q_p <damar!


Film ini sekarang sedang diputar di Banjarmasin, bersamaan dengan 4 film Indonesia lainnya (ho ho ho, Film Indonesia jadi mayoritas di 21 kota ini!) … Semoga masih diputar sampai Senin depan, mau nomat soalnya
*BTW, saya dan Mr Damon punya nama panggilan yang sama …
MattMed!