Oke, valentine memang udah lama lewat. Apa yang Anda sekalian lakukan waktu itu? Memberi coklat? Menanti orang memberikan coklat? Sadar dengan sepenuh hati bahwa tak akan ada yang memberikan ada coklat, dan karenanya meyakinkan diri bahwa valentine memang tak pantas dirayakan? (Kalau saya jawabannya yang terakhir itu. Ehm.
).
Masalah di atas ga perlu dibahas, karena yang sebenarnya ingin saya diceritakan di postingan ini bukan itu. Tapi ini.
Ada yang tahu peristiwa penembakan di kampus Northern Illinois tanggal 14 Februari 2008 lalu? Sang penembak, yang kemudian diketahui bernama Stephen Kazmierczak, tiba-tiba masuk ke auditorium Northern Illinois University (NIU) dan bang! bang! bang!
5 orang tewas, 16 luka-luka. Lalu ia bunuh diri.
Dan suara bang! bang! bang! itu bukan suara orang mau beli bakso, mungkin akan jauh lebih baik kalau itu benar, tapi bukan, itu adalah suara terakhir yang terdengar menjelang kepanikan sekitar 162 orang yang ada di dalam auditorium itu. Suara yang berasal senapan semi-otomatis yang merenggut nyawa beberapa dari mahasiswa termasuk penggunanya, si pemuda umur 27 tahun tersebut. Menyeramkan. Padahal belum sampai setahun berselang sejak terjadinya peristiwa penembakan serupa di Virginia Tech.
Sekarang lihat siapa si Stephen Kazmierczak ini. Mahasiswa sosiologi, mantan Wakil Presiden Asosiasi Studi Hukum Pidana di NIU, dan pernah menerima beasiswa, dikenal ramah dan bersahabat oleh rekan-rekannya. Wah. Dan memang tak akan ada orang yang menyangka orang seperti beliau bisa melakukan penembakan seperti itu, termasuk keluarga dan kekasihnya.
Aaah, sekarang jadi ragu, apa orang di sekitar kita yang kita kenal, memang seperti yang kita kenal ya? Kita ngga akan pernah tahu apa yang ada di pikiran orang lain. Kalau sang penerima beasiswa itu saja bisa tega menembak membabi buta, bagaimana saya bisa yakin teman kosan saya yang jarang keluar kamar itu tidak berencana meledakkan kosan saya? Atau si pria penyendiri tukang manggut-manggut di kelas itu takkan pernah melepaskan gas beracun mematikan? Atau tukang es cendol itu tidak menggunakan pewarna kain untuk cendolnya? Atau es batu yang dipakai untuk membuat es teh manis di warteg itu tidak dibuat dari air kali kotor yang diberi pemutih?
Sial. Valentine yang katanya hari cinta-cintaan, hari kasih sayang, malah jadi momentum yang mengingatkan kita untuk belajar mengenal orang lain dari awal lagi. Dan masih jauh untuk berhak merayakan valentine kalau tahap awal dari cinta-cintaan itu sendiri (mengenal) belum bisa dilakukan. Orang-orang yang (katanya) mengenal Kazmierczak bisa bilang beliau ramah, mahasiswa teladan, penerima beasiswa, dsb, dsb. Tapi fakta bahwa ia membunuh 6 orang, termasuk dirinya sendiri, membuktikan tak seorang pun yang (sebenarnya) mengenal dia. Setidaknya tidak cukup kenal untuk menghindari kejadian semacam ini terjadi. Sekali lagi, sial.
catatan :
-
Suara bang! bang! bang! untuk menggambarkan suara senapan, bukannya dor! dor! dor! dipakai karena mengingat kejadiannya di luar negeri, jadi harus pakai efek suara luar negeri.
-
Bullet for My Valentine adalah band metalcore asal South Wales. Memang ga ada hubungannya, tapi ya…bolehlah namanya dipinjam sebentar. Cukup mewakili. Kalau ada yang nyasar kemari mencari Bullet for My Valentine, mohon maaf sebesar-besarnya.
@q_p <damar!


lucu ih